You are here: Home Artikel Dosen
Decrease font size  Default font size  Increase font size 
JA slide show
Artikel Dosen
Kamis, 12 Oktober 2017 10:57

CARA BIJAK GUNAKAN GADGET BAGI SISWA SD

Oleh : Zahruddin Hodsay

 

            Gadget, di jaman ini siapa yang tidak kenal dan tidak butuh dengan barang satu ini? Tidak hanya bagi orang tua, bahkan anak-anak pra sekolahpun sudah mengenal gadget. Bahkan tidak sedikit anak kecil yang sudah kecanduan gadget, menangis histeris ketika gadget diambil dari genggamannya. Sedangkan bagi remaja dan orang tua, gadget telah menemaninya sepanjang waktu. Apabila tidak memegang gadget dalam beberapa jam saja, rasanya seperti ada sesuatu yang hilang dan akan segera mencari dan membukanya. Demikian juga siswa seusia Sekolah Dasar (SD), gadget orang tuanya termasuk benda yang paling sering dicari ketika pulang sekolah untuk sekedar membuka Istagram (IG), bermain games atau membuka video-video lucu dan unik yang terdapat pada YouTube.

            Gadget dalam website wikipedia berbahasa Indonesia diartikan suatu istitilah yang berasal dari bahasa Inggris untuk merujuk pada suatu piranti atau instrumen yang memiliki tujuan dan fungsi praktis spesifik yang berguna yang umumnya diberikan terhadap sesuatu yang baru, ia dirancang secara berbeda dan lebih canggih dibandingkan teknologi normal yang ada pada saat penciptaannya. Pada kenyataannya gadget tidak hanya beredar di kalangan remaja (usia 12 sampai 21 tahun) dan dewasa atau lanjut usia (usia 22 ke atas), tetapi juga beredar di kalangan usia anak-anak (usia 7 sampai 11 tahun).  Bahkan sangat memprihatinkan sekali gadget bukan lagi menjadi barang asing untuk anak usia dini (usia 3 sampai 6 tahun) yang belum layak menggunakan gadget.

            Konon Indonesia adalah negara paling banyak warganya pengguna media sosial. Hal ini tentu berbanding lurus dengan kepemilikan dan pemanfaatan gadget. Siswa SD tentu menjadi salah satu dari pengguna gadget tersebut. Media sosial melalui gadget telah merambah dan menyasar di berbagai lini usia, tempat dan taraf ekonomi. Tidak hanya anak-anak, tapi termasuk kakek nenek. Tidak hanya penduduk yang tinggal di kota, juga sudah merambah ke berbagai pelosok desa selagi jaringan internet tersedia. Tidak hanya bagi orang yang kaya, tapi juga menyasar warga masyarakat yang memiliki taraf ekonomi menengah ke bawah. Kita menyaksikan saat ini, bukan sesuatu yang aneh lagi ketika para buruh bangunan, tukang becak, pedagang kaki lima dan pekerja kasar lainnya sudah begitu familiar menggunakan gadget dalam keseharian dan menunjang pekerjaan. Ketika mereka kembali ke rumah masing-masing, sudah barang tentu gadget tersebut akan menarik perhatian anak-anak mereka, termasuk anak usia siswa SD. 

            Bicara tentang penggunaan dan pemanfaatan gadget, kita tidak dapat memungkiri bahwa gadget memiliki banyak sekali manfaat atau dampak positif. Namun kita juga tidak dapat menutup mata bahwa tidak sedikit dampak negatif gadget, khususnya bagi anak SD. Oleh karena itu kita harus memilih dan memilah tentang dampak positif dan dampak negatif penggunaan gadget, yang dengan itu kita berharap menjadi bijak dalam mensikapi dan memanfaatkannya. Menurut Indri (2013 : 3) dampak positif dari penggunaan gadget adalah dapat membantu perkembangan fungsi adaptif seorang anak, dapat menambah pengetahuan,  anak-anak dengan mudah dan cepat untuk mendapatkan informasi mengenai tugas mereka di sekolah, dapat memperluas jaringan persahabatan, dapat  mempermudah komunikasi dan gadget dapat membangun kreatifitas anak. Anak dapat berkreasi dengan membuat karya-karya dengan menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada dalam gadget tersebut.

Selain memiliki dampak positif, gadget juga memiliki dampak negatif yang harus diwaspadai oleh oleh tua, guru dan siswa SD itu sendiri. Gadget merupakan alat komunikasi berukuran mini dengan banyak kegunaan yang dapat diperoleh di dalamnya. Kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dan hiburan telah tersaji dalam bentuk online maupun offline. Jika orang tua membiarkan anak secara terus menerus menggunakan aplikasi gadget yang akan menjadikan anak usia dini tersebut menjadi sulit berkonsentrasi dalam belajar, malas menulis, malas membaca buku dan mengalami penurunan kualitas si anak dalam bersosialisasi. Belum lagi, gadget menimbulkan banyak dampak negatif jika dalam penggunaannya dilakukan secara terus menerus, salah satunya seperti penyakit gangguan kejiwaan (Maulida, 2013 : 1).

Beranjak dari permasalahan dan fenomena tersebut di atas, diperlukan cara bijak dalam menggunakan dan memanfaatkan gadget bagi siswa sekolah dasar. Karena penggunaan gadget di SD melibatkan setidaknya 4 pihak (anak, orang tua, sekolah dan guru), oleh karena itu cara yang ditempuh ini membutuhkan perhatian dan kerjasama diantara pihak-pihak dimaksud. Ada beberapa cara bijak penggunaan dan pemanfaatan gadget bagi siswa SD, antara lain :

Pertama, Kepemilikan Gadget. Dengan mempertimbangkan karakter, kecerdasan, pengetahuan dan  usia anak SD yang mana belum mampu membedakan baik dan buruk maka menurut pendapat penulis anak seusia SD tidak diperkenankan memiliki gadget sendiri. Atau dengan kata lain, menurut hemat penulis rasanya kurang tepat dan kurang bijak orang tua membelikan dan memberikan gadget kepada anak yang masih SD. Alasan karena kebutuhan perkembangan zaman, fasilitias kemudahan belajar dan komunikasi serta pertimbangan bentuk kasih sayang rasanya belum tepat bagi orang tua untuk memberikan sepenuhnya gadget kepada anak yang masih seusia SD. Perlu juga diketahui bahwa hasil penelitian Depdiknas menyebutkan bawha pada usia empat tahun kecerdasan anak mencapai 50 persen, sedangkan pada usia 8 tahun kapasitas kecerdasan anak yang sudah terbangun mencapai 80 persen (Rachman, 2011 : 59). Hal tersebut semestinya menjadikan para orang tua harus lebih hati-hati dalam memberikan kebijakan pemilikan gadget terhadap anak di usia SD.

Kedua, Pengaturan dan pembatasan waktu. Tidak diperkenankannya siswa SD memiliki gadget, bukan berarti tidak diperbolehkan sama sekali menggunakan dan memanfaatkan gadget. Ketika anak berada di rumah, orang tua dapat meminjamkan gadget kepada anak namun perlu mengatur dan membatasi waktu penggunaan gadget. Misalnya 1-2 jam per hari, itupun untuk digunakan dalam hal-hal tertentu seperti mencari materi pelajaran, bermain games, menggunakan media sosial (medsos) facebook, whattapp, istagram, line dan sejenisnya. Waktunyapun disepakati bersama orang tua dan anak, misalnya setelah pulang sekolah, setelah selesai makan, mandi atau mengerjakan PR, atau sebelum istirahat malam. Demikian juga ketika siswa SD berada di sekolah, sekolah yang memperkenankan siswa SD membawa gadget perlu pengaturan dan pembatasan waktu penggunaannya. Misalnya sebelum belajar dimulai, saat istirahat atau dalam proses belajar mengajar yang menggunakan gadget. Di luar waktu-waktu tersebut, siswa diwajibkan mematikan gadget masing-masing. Bahkan untuk melatih kedisiplinan dan sportifitas siswa, gadget benar-benar dinonaktifkan termasuk tidak diperkenankan dalam bentuk silent (getar). Bagi yang melakukan pelanggaran diberikan sanksi yang mendidik. Baik di rumah maupun di sekolah, penggunaan dan pemanfaatan gadget sama-sama harus dalam pengawasan orang tua dan/atau guru.

Ketiga, Kebijakan Sekolah. Kebijakan sekolah untuk menentukan peraturan diperbolehkan atau dilarang membawa gadget ke sekolah akan berpengaruh terhadap siswa SD itu sendiri. Ketika menerapkan kebijakan diperbolehkan membawa gadget, tentunya harus diiringi dengan ketentuan-ketentuan yang mengatur penggunaan dan pemanfaatan gadget di sekolah. Demikian juga ketika kebijakan sekolah tidak memperbolehkan siswa SD membawa gadget ke sekolah, dalam pelaksanaannya harus dikontrol di lapangan dan dievaluasi jangan sampai ternyata ada siswa yang membawa gadget. Sekolah dapat membuat kebijakan menyita gadget yang ketahuan dibawa siswa SD di sekolah, dan hanya boleh diambil oleh orang tuanya. Sesekali dilakukan razia di kelas bisa menjadi salah satu alternatif ikhtiar sekolah untuk memastikan bahwa siswanya benar-benar tidak membawa gadget.

Keempat, Kerjasama Orang Tua dan Guru/Wali Kelas. Penggunaan dan pemanfaatan gadget bagi siswa SD dalam realisasinya diperlukan kerjasama yang baik antara guru/wali kelas dan orang tua. Antara lain seperti komunikasi antara orang tua dan guru melalui gadget tentang perkembangan dan permasalahan anak. Demikian juga halnya yang menyangkut proses belajar mengajar guru dengan anak-anak dapat dibicarakan melalui gadget. Ini akan sangat membantu orang tua yang bekerja, yang memiliki keterbatasan waktu untuk bertatap muka langsung dengan guru. Di era digital ini, penggunaan media sosial (seperti WA, line, BBM dan sejenisnya) melalui gadget sangat membantu terjadinya kerjasama, komunikasi dan koordinasi antara orang tua dan guru. Orang tua dan guru dapat saling bertukar informasi melalui gadget tentang perkembangan, pembelajaran, permasalahan, kegiatan sekolah anak, evaluasi belajar dan kegiatan anak-anak mereka di SD. Kebiasaan share tulisan-tulisan tentang pola pengasuhan anak dari para penggiat pendidikan, trainer, motivator dan tokoh pendidikan melalui group media sosial orang tua siswa dan guru/wali kelas merupakan contoh lainnya penggunaan gadget yang dipandang memberikan manfaat yang luas dan konkrit.

Kelima, Games Edukatif. Tidak dapat dipungkiri, games menjadi daya tarik utama bagi siswa seusia SD dalam menggunakan dan memanfaatkan gadget. Pada kenyataannya anak-anak sekarang bila sudah keasyikan bermain games, biasanya anak-anak akan lupa waktu. Lupa waktu makan, lupa waktu belajar, lupa waktu tidur, lupa waktu sholat dan lupa waktu mandi. Konsentrasinyapun hanya terfokus pada games yang sedang dimainkannya, bahkan pada waktu tertentu mereka tidak menghiraukan lagi apa dan bagaimana kejadian di seputar mereka. Oleh karena itu orang tua harus pandai dan cerdas memilihkan dan memilahkan games-games yang bernilai edukatif buat anak SD. Karena sebagaimana kita ketahui banyak sekali games yang dengan mudah didownload anak, padahal mengandung unsur kekerasan, kejahatan, pornografi, pornoaksi, diskriminasi dan memiliki misi ujaran kebencian pada kelompok tertentu. Orang tua harus benar-benar memastikan bahwa konten gadget yang dimiliki dan digunakan anak-anak berisi games yang edukatif, dan segera mendelete games yang dapat merusak moral dan prilaku anak.

Keenam, Penugasan Edukatif.  Guru di sekolah SD dapat saja memberikan penugasan edukatif yang menggunakan gadget, baik dilakukan siswa di rumah ataupun dilakukan siswa di sekolah. Ada salah satu contoh baik dan bijak yang dilakukan oleh guru anak saya di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Bina Ilmi Palembang beberapa waktu lalu. Di sekolah anak saya diadakan lomba photografi antar kelas dengan menggunakan gadget/handphone. Proses pengambilan photo harus dilakukan di sekolah, jadi siswa boleh berkreasi mengambil photo dengan angel yang mereka sukai. Photo tersebut harus diberikan narasi singkat, dipilih photo dan narasi terbaik untuk juara 1, 2, 3 dan harapan 1, 2, 3. Bagi para pemenang disediakan hadiah yang cukup menarik. Sewaktu sudah kembali ke rumah, anak-anak diminta menunjukkan hasil karya photographi mereka dengan orang tua masing-masing.

Contoh lain bentuk penugasan yang bersifat edukatif misalnya anak SD ditugaskan mendownload dan mencetak (print) gambar flora dan fauna pada pelajaran IPA, yang menggunakan gadget/handphone orang tuanya. Bentuk lainnya dapat berupa mendownload dan mencetak berita-berita dunia islam untuk pelajaran agama Islam. Atau mencari istilah-istilah asing yang sulit ditemukan arti dan maksudnya jika dicari dalam buku, atau dengan kata lain mencari di mbah google.

Tidak dapat dipungkiri juga saat ini orang sedang menyukai kebiasaan selfie, update status, video blog (vlog), bisnis online dan sejenisnya melalui gadget. Hal ini tidak hanya menjadi budaya orang dewasa, tapi sudah merambah menjadi budaya pada anak-anak, termasuk anak seusia SD. Jika kita perhatikan, tidak sedikit isi handphone orang tua berisi banyak photo-photo selfie anak-anaknya atau video singkat. Mengapa tidak kebiasaan selfi dan membuat video singkat anak-anak dimanfaatkan oleh guru sebagai penugasan yang bersifat edukatif. Misalnya lomba selfie anak SD bersama orang tua dan saudaranya di rumah, kemudian dikirim melalui gadget/handphone wali kelas. Begitu juga video singkat anak-anak menghapal ayat-ayat tertentu sebagai tugas pada mata pelajaran agama atau tahfidz qur’an, yang kemudian dikirimkan orang tua melalui WA kepada guru agama atau guru tahfidz quran di sekolah. Langkah dan cara ini sangat jelas manfaatnya, selain menjadikan moment kerjasama yang baik antara anak, orang tua dan guru.

Ketujuh, program parenting keluarga. Sebagaimana yang pernah disampaikan penulis pada kolom opini Harian Tribun Sumsel (Edisi Senin, 16 Mei 2016) bahwa belakangan banyak sekali kegiatan berupa pelatihan, seminar, workshop atau training motivasi seputar program parenting keluarga. Semua itu muaranya adalah penguatan dan pengokohan keluarga. Kita juga dapat mengikuti salah satu program yang telah digulirkan atas dasar kesepakatan anggota keluarga. Sebut saja seperti “program 1821 kumpul keluarga, disconnect gadget-tv-computer just connect with family 18.00 – 21.00”. Program yang digagas pakar parenting Abah Ihsan tersebut berupa kesepakatan seluruh anggota keluarga bahwa sejak pukul 18.00 – 21.00 saatnya berkumpul dengan keluarga. Pada rentang waktu tersebut dilarang menggunakan gadget untuk main games, menonton televisi dan menggunakan komputer. Selama rentang waktu tersebut dibuat program-program kesepakan bersama anak seperti belajar, membaca atau menghafal Al-Quran, story telling, main catur, main rubik, dan program bermanfaat lainnya yang tidak berhubungan dengan gadget, televisi dan komputer. Apalagi anak seusia SD, pembiasaan-pembiasaan positif menyangkut penggunaan gadget cukup mudah untuk dilaksanakan.

Demikianlah, cara-cara bijak yang dapat ditempuh bagi beberapa pihak dalam hal penggunaan gadget bagi siswa seusia SD. Suatu pemikiran dan pendapat, barang kali tidak lepas dari pro dan kontra. Bila kita memiliki kesamaan pandangan, tulisan ini akan semakin memberi penguatan diantara kita. Namun bila tidak satu pendapat, tulisan ini kiranya dijadikan saja sebagai referensi pembanding.Tentu masih terdapat cara lain yang dapat ditempuh selain hal-hal tersebut di atas, yang disesuaikan dengan budaya setempat, pola asuh keluarga, kebijakan sekolah, kreatifitas guru dalam pembelajaran dan sebagainya. Semoga bermanfaat, amiiinn.

 

           

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Yang lagi Online

Kami memiliki 9 Tamu online

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterPengunjung Hari ini19
mod_vvisit_counterPengunjung Kemairin26
mod_vvisit_counterPengunjung Minggu ini172
mod_vvisit_counterPengunjung Minggu Lalu259
mod_vvisit_counterPengunjung Bulan ini829
mod_vvisit_counterPengunjung Bulan Lalu1145
mod_vvisit_counterTotal Kunjungan115805