• Bimbingan dan Konseling

  • Praktek BKLS di Pengadilan Agama

  • (PKBI) SUMATERA SELATAN

  • Lorem ipsum dolor 4

  • Lorem ipsum dolor 5

Visitors Counter

14398
TodayToday18
YesterdayYesterday29
This_WeekThis_Week147
This_MonthThis_Month1020
All_DaysAll_Days14398

MiniCalendar

April 2017
SMTWTFS
1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30

PERAN KONSELOR DALAM MASYARAKAT MULTIKULTURALISME DI SEKOLAH

Oleh:

Romadhona Noverina, S.Pd,M.Si (1)

M.Ferdiansyah, S.Pd. M.Pd.,Kons (2)

 

Dosen Program Studi Bimbingan dan Konseling Univ PGRI Palembang

 

ABSTRAK

Dewasa ini isu-isu keragaman budaya mempengaruhi semua siswa. Konflik antara budaya minoritas siswa asal dan budaya yang dominan dapat memiliki dampak yang signifikan pada pengalaman pendidikan mereka dan sosial di sekolah. Karena efek dari rasisme dan diskriminasi begitu luas, konselor sekolah harus mempertimbangkan cara-cara untuk melipatgandakan layanan mereka dengan mengembangkan program-program untuk mencapai semua anak. Tentu saja, jika dipaksa untuk membuat pilihan karena beban kasus besar, maka konselor harus memusatkan energi mereka pada siswa yang paling berisiko untuk tidak mencapai potensi mereka, kelompok yang paling beresiko untuk kegagalan dan konsekuensi jangka panjang dari kegagalan itu. Mempromosikan multikulturalisme adalah sebuah tantangan. Tetapi juga merupakan kesempatan bagi konselor sekolah untuk terlibat dalam membantu semua siswa, apa pun warna atau status social ekonomi, untuk belajar dan untuk mencapai pendidikan dan itu bisa membuat perbedaan besar dalam kehidupan seorang anak.

 

Kata Kunci : Peran, Konselor, Multikulturasisme

 

 

 

 

 

 

 A.  Pendahuluan

Indonesia adalah negara yang terdiri dari beragam budaya yang berbeda-beda. Keragaman yang dimiliki Indonesia, di satu sisi adalah merupakan anugrah yang sangat berharga dan harus dilestarikan, akan tetapi keragaman ini di sisi lain diakui atau tidak adalah sebuah tantangan karena di dalamnya akan dapat menimbulkan berbagai persoalan, seperti kolusi sesama etnis, nepotisme, kemiskinan, perusakan lingkungan, separatisme, dan dan yang lebih menghawatirkan adalah akan hilangnya rasa kemanusiaan untuk menghormati hak-hak orang lain, yang merupakan bentuk nyata sebagai bagian dari multikulturalisme tersebut, maka tidak dapat dipungkiri lagi bahwa penting adanya kesadaran multikultural.

Multikulturalisme adalah “pengakuan pluralism budaya yang menumbuhkan kepedulian untuk mengupayakan agar kelompok-kelompok minoritas terintegrasi ke dalam masyarakat dan masyarakat mengakomodasi perbedaan budaya kelompok-kelompok minoritas agar kekhasan identitas mereka diakui” (Kymlika dalam Haryatmoko, 2006). Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Oleh karena itu konselor sebagai pengampu pelayanan konseling diharapkan memiliki keterampilan dan pengetahuan yang luas dalam memberikan pelayanan dalam keberagaman masyarakat sekolah.

B.  Permasalahan Penelitian

            Permasalahan yang dikaji dalam makalah ini adalah Bagaimana peranan konselor dalam menghadapi masyarakat yang multikultural?

 

C.Tujuan Penulisan

            Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengkaji dan memahami peranan konselor dalam menghadapi masyarakat yang multikultural.

 

D.   Metodologi

            Metodologi penelitian ini menggunakan penelitian berbasis studi literature pustaka yang dilakukan dengan mengkaji dan menggali berbagai teori dan praksis melalui literature mulai dari buku, jurnal ilmiah, internet, pengalaman peneliti dan berbagai data serta fakta di dalam masyarakat.

 

E.    Hasil dan Pembahasan

            Indonesia termasuk Negara besar di kawasan Asia Tenggara yang terdiri atas ratusan pulau memiliki beragam etnik (suku) yang hidup dan berkembang dengan tradisi serta keyakinan religius yang unik sehingga lahir corak budaya bebeda satu sama lain. Kemajemukan budaya atau multibudaya dalam pandangan postmodernisme dikenal dengan istilah multikulturalisme. Paham multikulturalisme diperkenalkan pertama kali pada tahun 1960 oleh ahli Sosiologi Kanada, yaitu Charles Hobart. Sebuah kenyataan bahwa bangsa Indonesia terdiri dari kolektifitas kelompok-kelompok masyarakat yang bersifat majemuk. Dari segi etnitasnya terdapat 656 suku bangsa (Hidayat, 1997) dengan tidak kurang dari 300 jenis bahasa-bahasa daerah, dan di Irian Jaya saja lebih 200 bahasa-bahasa sukubangsa (Koentjaraningrat,1993). Penduduknya sudah mencapai 200 juta, yang menempatkan Indonesia pada urutan keempat dunia.

Tatanan dan sejarah pembentukannya memiliki arti strategik, dilihat dari geopolitik perkembangan bangsa-bangsa di dunia, khususnya Asia Tenggara. Salah sati ciri benua maritim Indonesia, lautannya mengandng sumber daya alam yang kaya. Demikian juga wilayah pesisirnya, dimana garis pentainya sepanjang 81.000 km itu beranekaragam dan sangat besar potensi budidaya laut. Geografi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar memiliki keunikan budaya, terlebih jika dikaitkan dengan letah dalam peta dunia. Karakter pluralistik itu ditambah lagi dengan perbedaan-perbedaan tipe masyarakatnya. Sesung-guhnya multikultural tersebut sebagai suatu keadaan obyektif yang dimiliki bangsa Indonesia. Tetapi kemajemukan itu tidak menghalangi keinginan untuk bersatu! Paling tidak, beberapa daerah yang tergolong “termaginalkan” untuk proses pendi-dikan masyarakatnya, adanya suatu harapan untuk berpikir maju, walaupun dengan tataran yang masih sederhana.

Sejarah Indonesia memperlihatkan bahwa pada tahun 1928, ikrar “Sumpah Pemuda” menegaskan tekad untuk membangun nasional Indonesia. Mereka bersumpah untuk berbangsa, bertanah air, dan berbahasa satu yaitu Indonesia. Ketika merdeka dipilihnya bentuk negara kesatuan. Kedua peristiwa sejarah ini menunjukan suatu kebutuhan yang secara sosio-politis merefleksi keberadaan watak pluralisme tersebut. Kenyataan sejarah dan sosial budaya tersebut lebih diperkuat lagi melalui ari simbol “Bhineka Tunggal Ika” yaitu “berbeda-beda dalam kesatuan” pada lambang negara Indonesia. Struktur masyarakat Indonesia sebagaimana telah kita ketahui dapat menimbulkan persoalan tentang bagaimana masyarakat Indonesia terintegrasi pada tingkat nasional. Untuk menjelaskan hal tersebut, penulis mencoba untuk menelaah kembali beberapa kharakteristik yang dapat kita kenali sebagai sifat dasar dari suatu masyarakat majemuk, sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasikun yakni; 1) terjadinya segmentasi ke dalam bentuk kelompok-kelompok yang seringkali memiliki kebudayaan, atau lebih tepat sub-kebudayaan, yang berbeda satu sama lain; 2) memiliki struktur sosial yang terbagi-bagi ke dalam lembaga-lembaga yang bersifat dasar; 3) kurang mengembangkan konsensus di antara para anggota masyarakat tentang nilai-nilai sosial yang bersifat dasar; 4) secara relatif seringkali terjadi konflik antara kelompok yang satu dengan kelompok yang lain; 5) secara relatif integrasi sosial tumbuh di atas paksaan (coercion) dan saling ketergantungan di dalam bidang ekonomi; serta 6) adanya dominasi politik suatu kelompok atas kelompok-kelompok yang lain.

Dalam pandangan fungsionalisme struktural untuk mewujudkan sistem sosial itu dapat terintegrasi dari berbagai multikultural terdapat 2 landasan pokok, yakni pertama, suatu masyarakat senantiasa terintegrasi di atas tumbuhnya konsensus diantara sebagian anggota masyarakat akan nilai-nilai kemasyara-katan yang bersifat fundamental. Kedua, suatu masyarakat senantiasa terintegrasi juga oleh karena berbagai anggota masyarakat sekaligus menjadi anggota dari berbagai kesatuan sosial (cross-cutting affiliations). Oleh karena itu setiap konflik yang terjadi diantara suatu kesatuan sosial dengan kesatuan-kesatuan sosial yang lain segera akan dinetralisir oleh adanya masyarakat terhadap berbagai kesatuan sosial.

Pada tingkat tertentu keduanya mendasari terjadinya integrasi sosial di dalam masyarakat yang bersifat majemuk. Oleh karena tanpa keduanya suatu masyarakat bagaimanapun tidak mungkin terjadi. (Nasikun, 2000). Akan tetapi sifat-sifat masyarakat majemuk sebagaimana yang kita uraikan di atas, telah menyebabkan landasan terjadinya integrasi sosial. Dalam hal ini sedikitnya ada dua macam konflik yang mungkin dapat terjadi yakni; 1) konflik di dalam tingkatannya yang bersifat ideologis, dan 2) konflik di dalam tingkatannya yang bersifat politis. Pada tingkatan ideologis bentuk konfliknya adanya pertentangan sistem nilai yang dianut di dalam masyarakat tersebut. Sedangkan tingkatan politis bentuk konfliknya berupa pertentangan di dalam pembagian status kekuasaan, dan sumber-sumber ekonomi yang terbatas di dalam masyarakat.

Sedangkan konflik horisontal rentan terjadi ketika dalam interaksi sosial, antar kelompok yang berbeda tersebut dihinggapi semangat superrioritas. Yakni semangat yang menilai bahwa kelompok (insider) nya adalah paling benar, paling baik, paling unggul serta paling sempurna. Sementara kelompok lain (outsider) tidak lain hanyalah sebagai pelengkap (komplemeter) dalam hidup ini. Untuk itu, outsider layak untuk dihina, dilecehnya dan dipandang kurang berarti. Puncak dari semangat egosentrisme, etnostrisme, chauvisme tersebut adalah muculnya klaim-klaim kebenaran. Klaim kebenaran ini tidak lain adalah  kelainan jiwa yang disebut narsisme. Dimana seseorang atau kelompok-kelompok masyarakat menganggap bahwa  dirinya paling sempurna dibanding yang lain. Dalam relasi sosial,  gesekan klaim kebenaran  ini kemudian melahirkan standar ganda.

Bisa dibayangkan, bagaimana kelompok-kelompok yang dihingapi narsisme ini kemudian berinterasi dalam domain sosial. Maka yang muncul adalah konflik-konflik bernuansa SARA. Tidak disangsikan, sejarah bangsa telah membuktikan itu. Mulai pertengahan dekade 90-an  sampai dekade 2000-an, kita disuguhi aneka tragedi kenuansaan bernuansa SARA. Tragedi Poso, Sambas Banyuwangi, Sitobundo, Madura, serta Aceh adalah fakta yang tak terbantahkan bagaimana dalam lingkaran sosial bangsa indonesia masih kokoh semangat narsistik-egosentris. Bahkan fakta paling mutakhir adalah bergolaknya konflik bernuansa Agama di ambon. Di dalam situasi konflik akibat multikultural tersebut, pada umumnya setiap pihak yang berselisih akan berusaha mengabadikan diri dengan cara memperkokoh solidaritas di antara sesama anggotanya. Dalam kaitan dengan sejarah, ternyata para kaum penjajah sengaja mempertantangkan perbedaan-perbedaan yang terjadi dalam budaya masyarakat Indonesia, sebagai upaya untuk mengikiskan persatuan dan kesatuan dari berbagai daerah. Jika tidak bersatu dan selalu dipertentangan pada demensi multikultural, maka negara penjajah akan mudah untuk mendikte bangsa Indonesia.

Dalam pengembangan konsep utuh bimbingan di Indonesia, perlu diperhatikan komponen-komponen perbedaan budaya. Apalagi Indonesia dikenal dengan keragaman yang kompleks baik segi demografis, sosial-ekonomis, adat-istiadat, maupun latar budayanya. Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi semboyan bangsa Indonesia dalam perspektif konseling lintas budaya, layaknya dikembangkan dimensi wawasan kebhinnekaannya dalam kerangka penegasan karakteristik keikaan yang kuat.

 

1. Multikulturalisme Indonesia di Sekolah

Pendidikan yang dimaksud hendaknya menegaskan dimensi-dimensi keragaman dan perbedaan. Dengan kata lain,kecenderungan pendidikan yang berwawasan lintas budaya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia abad-21. Supriatna (2011:168) mengatakan bahwa Suatu masalah yang berkaitan dengan lintas budaya adalah bahwa orang mengartikannya secara berlain-lainan atau berbeda, yang mempersulit untuk mengetahui maknanya secara pasti atau benar. Dapat dinyatakan, bahwa konseling lintas budaya telah diartikan secara beragam dan berbeda-beda; sebagaimana keragaman dan perbedaan budaya yang memberi artinya.

Andersen dan Cusher (1994) mengatakan bahwa pendidikan multikultural adalah pendidikan mengenai keragaman kebudayaan. Senada dengan itu Banks (1993:3) menyatakan bahwa pendidikan multikultural sebagai pendidikan untuk people of color. Artinya pendidikan multikultural ingin mengeksplorasi perbedaan sebagai keniscayaan. Kemudian memberi apresiasi atas perbedaan dengan semangat egaliter. Sebaiknya sistem pendidikan nasional juga mengadopsi pendidikan multikulturalisme untuk diberlakukan dalam pendidikan sekolah, dari tingkat SD sampai dengan tingkat SMA. Multikulturalisme sebaiknya termasuk dalam kurikulum sekolah, dan pelaksanaannya dapat dilakukan sebagai pelajaran ekstra-kurikuler atau menjadi bagian dari kurikulum sekolah.

Terkait dengan layanan bimbingan dan konseling di Indonesia, Moh. Surya (2006) mengetengahkan tentang tren bimbingan dan konseling multikultural, bahwa bimbingan dan konseling dengan pendekatan multikultural sangat tepat untuk lingkungan berbudaya plural seperti Indonesia. Bimbingan dan konseling dilaksanakan dengan landasan semangat bhinneka tunggal ika, yaitu kesamaan di atas keragaman. Layanan bimbingan dan konseling hendaknya lebih berpangkal pada nilai-nilai budaya bangsa yang secara nyata mampu mewujudkan kehidupan yang harmoni dalam kondisi pluralistik. Supriatna (2011), Konseling lintas budaya adalah pelbagai hubungan konseling yang melibatkan para peserta yang berbeda etnik atau kelompokkelompok minoritas; atau hubungan konseling yang melibatkan konselor dan klien yang secara rasial dan etnik sama, tetapi memiliki perbedaan budaya yang dikarenakan variabel-variabel lain seperti seks, orientasi seksual, faktor sosio-ekonomik, dan usia (

 “Multikulturalisme” pada dasarnya adalah pandangan dunia yang kemudian dapat diterjemahkan dalam berbagai kebijakan kebudayaan yang menekankan tentang penerimaan terhadap realitas keagamaan, pluralitas, dan multikultural yang terdapat dalam kehidupan masyarakat. Multikulturalisme dapat juga dipahami sebagai pandangan dunia yang kemudian diwujudkan dalam kesadaran politik (Azyumardi Azra, 2007). Pada dasarnya, multikulturalisme yang terbentuk di Indonesia merupakan akibat dari kondisi sosio-kultural maupun geografis yang begitu beragam dan luas. Menurut kondisi geografis, Indonesia memiliki banyak pulau dimana stiap pulau tersebut dihuni oleh sekelompok manusia yang membentuk suatu masyarakat. Dari masyarakat tersebut terbentuklah sebuah kebudayaan mengenai masyarakat itu sendiri. Tentu saja hal ini berimbas pada keberadaan kebudayaan yang sangat banyak dan beraneka ragam.

Acuan utama bagi terwujudnya masyarakat Indonesia yang multikultural adalah multikulturalisme, yaitu sebuah ideologi yang mengakui dan mengagungkan perbedaan dalam kesederajatan baik secara individual maupun secara kebudayaan. Dalam model multikulturalisme ini, sebuah masyarakat dilihat sebagai mempunyai sebuah kebudayaan yang berlaku umum dalam masyarakat tersebut yang coraknya seperti sebuah mozaik. Di dalam mozaik tercakup semua kebudayaan dari masyarakat-masyarakat yang lebih kecil yang membentuk terwujudnya masyarakat yang lebih besar, yang mempunyai kebudayaan yang seperti sebuah mozaik tersebut. Model multikulturalisme ini sebenarnya telah digunakan sebagai acuan oleh para pendiri bangsa Indonesia dalam mendesain apa yang dinamakan sebagai kebudayaan bangsa, sebagaimana yang terungkap dalam penjelasan Pasal 32 UUD 1945, yang berbunyi “Kebudayaan bangsa (Indonesia) adalah puncak-puncak kebudayaan di daerah”(Pratama, 2008).

 

2. Peranan Konselor dalam Menghadapi Masyarakat Multikultural

Kesadaran budaya merupakan salah satu dimensi yang penting dalam memahami masyarakat dengan keragaman budaya. Hal ini akan membantu dalam memberikan makna akan pemahaman mengenai perbedaan yang muncul. Konselor sebagai pendidik psikologis memiliki peran strategis dalam menghadapi keragaman dan perbedaan budaya. Oleh karena itu, konselor perlu memiliki kompetensi dan menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik secara pribadi maupun lintas budaya. Pemahaman mengenai prilaku dan proses interaksi dalam kehidupan bermasyarakat menjadi factor penting dalam mewujudkan kesadaran budaya dalam pendidikan formal maupun informal. Factor utama yang harus dimiliki konselor adalah kemampuan berinteraksi dan berkomunikasi dengan kemajemukan dan keberagaman budaya, konselor harus peka terhadap kemajemukan budaya yang dimiliki individu; memiliki pemahaman mengenai rasial dan warisan budaya dan bagaimana hal tersebut secara personal dan professional yang mempengaruhi pengertian dan hal yang bisa terjadi dalam proses konseling, serta memiliki pengetahuan mengenai pengaruh social terhadap orang lain.

Konselor sebaiknya dapat meingkatkan penghargaan diri terhadap perbedaan budaya, sehingga menyadari streotipe yang ada dalam dirinya dan memiliki persepsi yang jelas mengenai pandangannya terhadap kelompok-kelompok monoritas sehingga dapat meningkatkan kemampuan untuk menghargai secara efektif dan pemahaman yang sesuai dengan perbedaan budaya (Brown&Williams, 2003). Konselor perlu memperkuat kesadaran mengenai budaya yang beragam dalam kehidupan manusia. Pentingnya memahami perbrdaan nilai-nilai, persepsi, emosi dan factor-faktor yang menjadi wujud kemajemukan yang ada. Kompetensi, kualitas dan guidelines mengenai kesadaran budayanya sendiri yang dapat diwujudkan dengan memiliki kesadaran dan kepekaan pada warisan budayanya sendiri, memiliki pengetahuan mengenai ras-nya dan bagaimana hal ini secara personal dan professional yang mempengaruhi proses konseling, serta memiliki pengetahuan mengenai kehidupan social yang dapat mempengaruhi orang lain.

 

 

 

 

F.    Simpulan

Isu-isu keragaman budaya mempengaruhi semua siswa. Konflik antara budaya minoritas mahasiswa asal dan budaya yang dominan dapat memiliki dampak yang signifikan pada pengalaman pendidikan mereka dan sosial di sekolah. Karena efek dari rasisme dan diskriminasi begitu luas, konselor sekolah harus mempertimbangkan cara-cara untuk melipat gandakan layanan mereka dengan mengembangkan program-program untuk mencapai semua anak. Tentu saja, jika dipaksa untuk membuat pilihan karena beban kasus besar, maka konselor harus memusatkan energi mereka pada siswa yang paling berisiko untuk tidak mencapai potensi mereka, kelompok yang paling beresiko untuk kegagalan dan konsekuensi jangka panjang dari kegagalan itu. Mempromosikan multikulturalisme adalah sebuah tantangan. Tetapi juga merupakan kesempatan bagi konselor sekolah untuk terlibat dalam membantu semua siswa, apa pun warna atau status social ekonomi, untuk belajar dan untuk mencapai pendidikan dan itu bisa membuat perbedaan besar dalam kehidupan seorang anak. Oleh karena itulah konselor sebagai orangtua bagi siswa sangat berperan penting dalam menjaga dan mengembangkan setiap potensi siswa di sekolah dengan cara menanamkan sikap saling menghormati antar suku budaya agar terhindar dari konflik antar ras yang dapat muncul akbibat dari keberagaman tersebut.

G.   DAFTAR PUSTAKA

Ferdiansyah. Muh. 2013. Peran Wali Kelas dalam Penyelenggaraan Bimbingan dan Konseling untuk Mencegah Permasalahan Siswa Pada Masyarakat Multikultural dan Modern di Sekolah. Prosiding Seminar Internsaional Konseling. Bali : Undiksha 

Hasibuan, Sofia Rangkuti. 2002. Manusia Dan Kebudayaan Di Indonesia, Teori Dan Konsep (Edisi Revisi). Jakarta: Dian Rakyat.

Kementrian Pendidikan Nasional. 2011. Multikultural (Kajian holistik tentang multikultural dari berbagai dimensi). [Online]. Terdapat di : http://www.p4tkpenjasbk.or.id/index.php?option=com_content&view=article&id=1198:multikultural-kajian-holistik-tentang-multicultural-dari-berbagai-dimensi&catid=25:artikel&Itemid=454 (diunduh pada tanggal 16 April 2012)

Ria. 2012. Faktor Penyebab Multikultural di Indonesia. [Online]. Terdapat di:http://texbuk.blogspot.com/2012/02/faktor-penyebabmultikultural-di.html#ixzz1rJoL3PRShttp://my.opera.com/Putra%20Pratama/blog/show.dml/2743875 (diunduh pada tanggal 30 Maret 2012)

 Santrock, Jhon W. 2007. Remaja, edisi kesebelas. Jakarta: Erlangga.

 Supriatna, Mamat. 2011. Bimbingan dan Konseling Berbasis Kompetensi Orientasi Dasar Pengembangan Profesi Konselor. Bandung : Rajawali Pers

) Wira. 2006. Urgensi Pendidikan berbasis Multikultural. [Online]. Terdapat dihttp://blog.loksado.com/urgensi-pendidikan-berbasis-multikultural (diunduh pada tanggal 16 April 2012